Selasa, 26 November 2013

PEREMPUAN, AGAMA DAN TRANSFORMASI SOSIAL DALAM AGAMA KRISTEN

oleh:
Ika Wahyu. S
1111032100039/ PA/B
Dalam Kitab Suci menyatakan superioritas laki-laki atas perempuan, dan pada bagian lain mengimplikasikan kesederajatan. Bagian-bagian yang sering digunakan sebagai landasan untuk mencemarkan perempuan mencakup penciptaan Hawa dari rusuk Adam (Kajadian 2:21-23) dan ukuran-ukuran yang tidak sama bagi laki-laki dan perempuan dalam Hukum Kekudusan dalam Kitab Imamat, yang menetapkan bahwa seorang anak laki-laki dilahirkan, maka sang ibu najis selama tujuh hari, namun sebaliknya setelah kelahiran seorang anak perempuan lahir sang ibu najis selama empat elas hari (Imamat 12).
Perempuan-perempuan berteologi berdasarkan fakta dan pengalaman dibawah Firman Allah serta tindakannya menuju kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Oleh karena itu, advokasi bagi kesetaraan (equalitas) dan persahabatan, serta upaya menuju suatu cara hidup baru yang setara (equal) dalam struktur dan system gereja dan masyarakat merupakan agenda perjuangan para teolog feminis. Dengan demikian teologi feminis, adalah teologi yang didorong untuk melakukan advokasi terhadap kesetaraan (equality) dan kemitraan (partnership) yang di dalamnya perempuan dan laki-laki mengupayakan transformasi dan pembebasan harkat dan martabat (dignity) manusia yang tertindas dalam kehidupan gereja dan masyarakat luas. Sehingga perempuan atau laki-laki yang sadar akan situasi penindasan kaum perempuan dalam segala bidang kehidupan, maka mereka akan bertindak secara bertanggung jawab untuk mengubah situasi itu.

Seorang feminis, ialah seorang yang mengukuhkan kebaikan dan kekuatan kaum perempuan dan yang merayakan gambar Allah yang telah diberikan. Oleh karena itu, bagi teolog feminis (Kristen), berteologi (doing theology) yang artinya tidak saja berfikir dan berbicara tentang Allah dan konsern tersebut dalam terang imannya.
Ketika berbicara tentang asal usul dan tujuan umat manusia, Alkitab berbicara tentang kesederajatan laki-laki dan perempuan. Pada penciptaan baik laki-laki maupun perempuan dibuat dalam keserupaan dengan Allah. “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri . . . laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1: 27; lihat juga 5: 1-2). Ide bahwa di mata Allah satu manusia sama harganya dengan manusia yang lain dalam praktik dan ajaran Yesus sedemikian menonjol sehingga kita dapat mengatakan bahwa hal itu merefleksikan pikiran Kristus. Di mana-mana ajaran etis-Nya mengimplikasikan kesederajatan dalam arti bahwa setiap pribadi dikasihi oleh Allah.
Gerakan yang memperjuangkan kesederajatan hak-hak bagi perempuan telah sejak awal pada abad ke-18 bertumbuh secara kuat. Pada tahun 1790 Concordet, seorang humanis Prancis memberikan pengungkapan prinsip penghargaan yang universal dan sederajat. Prinsip itu secara singkat dijelaskan sebagai tuntunan untuk memperlakukan seperti laki-laki adalah makhluk dengan ketajaman perasaan, akal budi, dan moral.
PERWATI adalah wadah Persekutuan Wanita Berpendidikan Teologi di Indonesia. Dalam bahasa Inggris disingkat ATEWI (Association of Theologically Educated Women in Indonesia). PERWATI lahir pada tanggal 26 Mei 1995, di Bukit Inspirasi Tomohon. Tujuan PERW/UATI adalah ikut serta mewujudkan masyarakat yang adil, damai, sejahtera; merencanakan dan mengembangkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan perempuan berpendidikan teologi; menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri dan kemandirian perempuan berpendidikan teologi.
Moria, merupakan nama diberikan kepada Komisi Perempuan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang  secara formal dideklarasikan pembentukannya pada 16 Oktober 1957, adalah sebuah lembaga interen gereja yang didirikan perempuan GBK. Tujuan itu terlera dalam Pokok-pokok Peraturan Moria GBKP Bab II pasal 3, yang menyatakan tujuan Moria adalah:
ü  Membina anggota-anggotanya agar mengetahui dan memahami Firman Tuhan secara mendalam.
ü  Membina dan memperkokoh persekutuan antar sesama anggotanya.
ü  Memotifasi anggotanya agar mengetahui hak dan tanggung jawabanya selaku anggota gereja dan masyarakat.
ü  Ikut berperan secara aktif di dalam persekutuan gereja baik di tingkat nasional maupun internasional (persekutuan oikumene).

Bahan Bacaan
Ø  Mariani Rihi Ga, Ester. Perempuan Merdeka. Kumpulan Tulisan. Jawa Barat: PERUATI. 2011

Ø  Urban, LinwoodSejarah Ringkas Pemikiran Kristen. Terjemahan Liem Sien Kie. Jakarta: Gunung Mulia. Cet. 3. 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar